Pendahuluan
Olahraga rock climbing semakin berkembang pesat di Indonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi, sudah merupakan kegiatan yang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yang selalu muda.
Olahraga rock climbing semakin berkembang pesat di Indonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi, sudah merupakan kegiatan yang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yang selalu muda.
Pada dasarnya, rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing
batu yang memanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang
dapat dijadikan pijakan atau pegangan untuk menambah ketinggian dan merupakan salah
satu cara untuk mencapai puncak. Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan
perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan, juga prinsip dan etika pemanjatan.
Rock Climbing bukan hanya menjadi komoditi industri olah
raga dan petualngan saja.Tetapi aplikasinya juga telah menjadi komoditas
industri-industrilainnya sepertiwisata petualangan,outbound
training,entertaiment,iklan dan film,serta industri-industri lainnya
yang membutuhkan jasa ketinggian.Oleh karena itu perlu ilmu rock climbing
yang sangat mendasar sebagai acuan yang kuat diri dan dunia rock
climbing itu sendiri.
A. DEFINISI PANJAT
TEBING
Panjat Tebing adalah Seni olahraga atau Hobi yang dilakukan
dengan mengandalkan kelenturan dan kekuatan otot serta tekhnik tersendiri untuk
memanjat mencapai Puncak Tertinggi.
B. ETIKA PEMANJATAN
Secara umum etika pemnjatan sama dengan etika – etika dalam
penjelajahan alam lain
Ø Dilarang
mengambil sesuatu kecuali gambar
Ø Dilarang
meninggalkan sesuatu kecuali jejak
Ø Dilarang
membunuh sesuatu kecuali waktu
Secara khusus ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan
dalam etika panjat tebing adalah sebagai berikut :
Ø Menghormati
adat istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat.
Ø Menjaga
kelestarian alam.
Ø Merintis
jalur baru.
Ø Memanjat
jalur bernama.
Ø Pemberian
nama jalur.
Ø Memberi
keamanan bagi pemanjat lain
C. ALAT – ALAT
PEMANJATAN
Alat-alat yang diguanakan dalam pemanatan artificial
1.
Tali carmentel
Biasanya yang digunakan adalah tali yang memiliki tingkat
kelenturan atau biasa disebut dynamic rope. Secara umun tali di bagi menjadi
dua macam yaitu :
ü Static
adalah tali yang mempunyai daya lentur 6% – 9%, digunakan untuk tali fixed rope
yang digunakan untuk ascending atau descending. Standart yang digunakan adalah
10,5 mm.
ü Dynamic
adalah tali yang mempunyai daya lentur hingga 25%, digunakan sebagai tali utama
yang menghubungkan pemanjat dengan pengaman pada titik tertinggi.
2.
Harnest
adalah alat pengikat di tubuh sebagai pengaman
yg nantinya dihubungkan dengan tali.
3.
Carabiner
adalah cincin kait yg terbuat dari alumunium
alloy sebagai pengait dan dikaitkan dgn alat lainnya.
ü Karabiner
Skrup/carabiner srew gate
ü Karabiner
Snap/carabiner non screw gate
4.
Helmet
adalah pelindung kepala yg melindungi kepala
dari benturan dari benda-benda yang terjatuh dari atas.
5.
Webbing
Adalah peralatan
panjat yg berbentuk pipih tidak terlalu kaku dan lentur, biasa digunakan
sebagai harnest
6.
Prusik
merupakan jenis tali carmentel yg berdiameter
5-6 mm, biasanya digunkan sbg pengganti sling runner dan juga dpt digunakan
untuk meniti tali keatas dengan menggunakan simpul prusik, seperti pada SRT.
7.
Sepatu Panjat
sebagai
pelindung kaki dan mempunyai daya friksi yg tinggi sehingga dpt melekat di
tebing. Jenisnya sendiri yang sering digunakan adalah soft (lentur/fleksibel)
dan hard (keras)
8.
Chock bag/Calk bag
sebagai tempat MgCo3 (Magnesium Carbonat) yg
berfungsi agar tangan tdk licin karena berkeringat sehingga akan membantu dalam
pemanjatan.
9.
Descender
Adalah peralatan
yang digunakan untuk meniti tali kebawah serta mengamankan leader disaat
membuat jalur, biasanya yg sering digunakan adalah figure of eight dan auto
stop.
10.
Ascender
Adalah peralatan
yang digunakan untuk meniti tali ke atas dan secara otomatis akan mengunci bila
dibebani. Jenis yang digunakan biasanya jumar dan croll
11.
Grigri
alat ini digunakan untuk membelay, alat ini
mempunyai tingkat keamanan yang paling tinggi karena dapat membelay dengan
sendirinya.
12.
Hammer
berfungsi untuk menanamkan pengaman dan
melepaskan kembali, biasanya yang diapakai jenisnya ringan dan mempunyai
kekuatan tinggi dan ujungnya berfungsi mengencangkan mur pada saat memasang
hanger.
13.
Pulley
mirip katrol, kecil dan ringan tetapi memiliki
kemampuan dalam beban yang berat. Digunakan untuk perlengkapan evakuasi.
14.
Handdrill
merupakan media untuk mengebor tebing secara
manual, yg berfungsi untuk menempatkan pengaman berupa bolt serta hanger.
D. SIMPUL YANG
DIGUNAKAN DALAM PEMANJATAN
Simpul – simpul yang digunakan dalam pemanjatan
Ø Simpul Delapan Ganda
Untuk
pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan
tubuh atau harnest. Toleransi 55% – 59%.
Ø Simpul Delapan Tunggal
Untuk
pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan
tubuh atau harnest apabila carabiner tidak ada Toleransi 55% – 59%.
Ø Simpul Pangkal
Untuk
mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope)
pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang
sebesar 45%.
Ø Simpul Jangkar
Untuk
mengikat tali pada penambat yg fungsinya sebagai pengaman utama (fixed rope)
pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang
sebesar 45%.
Ø Simpul Kambing / bowline
knot.
Untuk
pengaman utama dalam penambatan atau pengaman utama yang dihubungkan dengan
penambat atau harnest. Toleransi 52%.
Ø Simpul Kupu – kupu /
Butterfly knot
Untuk
membuat ditengah atau diantara lintasan horizon. Bisa juga digunakan untuk
menghindari tali yang sudah friksi. Toleransi terhadap kekuatan tali 50%.
Ø Simpul Nelayan /
Fisherman Knot
Untuk
menyambung 2 tali yang sama besarnya dan bersifat licin. Toleransi 41% – 50%.
Ø Simpul Frusik
Simpul
yang digunakan dalam teknik Frusiking SRT
Ø Simpul Pita
Untuk
Menyambung Tali yang sejenis, yang sifatnya licin atau berbentuk pipih (umumnya
digunakan untuk menyambung Webbing)
Ø Simpul Italy
Untuk
repeling jika tidak ada figure eight atau grigri. Toleransi terhadap kekuatan
tali akan berkurang 45%.
Ø Overhand Knot
Untuk mengakhiri pembuatan simpul
sebelumnya. Toleransi terhadap kekuatan tali akan berkurang sebesar 40%.
Ø Clove hitch knot
Untuk mengikat tali pada penambat yg fungsinya
sebagai pengaman utama (fixed rope) pada anchor natural dsb. Toleransi terhadap
kekuatan tali akan berkurang sebesar 45%.
Ø Figure of eight knot
Untuk
pengaman utama dalam penambatan dan pengaman utama yang dihubungkan dengan tubuh
atau harnest. Toleransi 55% – 59%.
Ø Eight on bight knot
Untuk pengaman utama dalam penambat pada
dua anchor. Toleransi 68%.
Ø Simpul two in one
Simpul
ini biasanya digunakan sebagai penambat pada anchor natural saat cleaning,
yaitu ketika pemanjat selesai dan turun dari tebing tanpa meninggalkan alat.
E. BAGIAN – BAGIAN
TEBING
Ø Poin
: Bagian Pada Tebing yang bias dijadikan tempat Pegangan dan Pijakan
Ø Rekahan
: Bagian Tebing Yang retak membentuk rekahan
Ø Rock
: Bagian/ Poin tebing yang terjatuh kedasar tebing
Ø Roof
: Bagian Tebing yang berbentuk Kursi terbalik.
F.JENIS ANCOR
Ø Natural
Ancor/ Penambat Alami adalah penambat alamiah yang tersedia oleh alam,Contoh :
Batang pohon, Akar pohon, Batu besar yang dijamin kuat
Ø Artificial
Ancor/ Penambat Buatan adalah Alat yang didesain secara khusus untuk digunakan
sebagai penambat, contoh : Piton, sky hook, Brigbo, ramset, hunger, stoper,
Contoh – contoh Artificial ancor:
1) Paku Piton
Merupakan pengaman sisipan yg berguna sebagai pasak.
2) Stopper
Digunakan untuk celah vertical yg menyempit kebawah dengan
prinsip kerja menjepit celah membentuk sudut atau menyempit.
3) Sky Hook
Sebagai pengaman sementara dengan prinsip kerja menyisipkan
ujung sky hook pada celah bebatuan dan harus terbebani, usahakan meminimalkan
gerak.
4) Ramset dan Hanger
Satu set peralatan dalam artificial climbing yg berfungsi
untuk menanamkan bolt dan kemudian digabungkan dengan hanger sehingga menjadi
pengaman tetap.
5) Friend
Pengaman yg diselipkan pada celah batu dengan bermacam ukuran.
Friend ada 2 macam :
ü Regular
Friend
Terbuat dari allumunium alloy dan mempunyai kelemahan yaitu
berbentuk static/tidak mempunyai kelenturan. Alat ini bekerja dengan baik
dicelah overhang.
ü Fleksibel
Friend
Bentuknya sama dengan regular friend hnya mempunyai
kelebihan terbuat dari kawat baja yg menjadikan friend ini sangat fleksibel,
dan dapat dipasang disemua celah dan segala posisi.
6) Hexa
Prinsip kerja sama dengan stopper hanya berbeda pada bentuk
round (bulat) dan hexagonal (segi enam).
7) Chocker
Alat bantu yg berfungsi untuk melepaskan hexa atau stopper
yg terkait di celah batu.
8) Etrier/tangga gantung &daisy chain
ü Etrier
: alat yg terbuat dari webbing yg menyerupai tangga untuk membantu menambah
ketinggian.
ü Daisy
chain : terbuat dari webbing, berfungsi untuk menambah ketinggian serta menjaga
apabila etrier jatuh
G. KODE – KODE YANG
DIGUNAKAN DALAM PEMANJATAN
Kode – kode pemanjatan adalah sebagai berikut :
ü Climb
:
Pemanjat Menginstrusi kepada Pembilay bahwa
pemanjat siap memanjat
ü Climbing
:
Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia
siap mengamankan pemanjat
ü On
Belay :
Pemanjat
Menginstrusi kepada pembilay bahwa pemanjat memulai memanjat
ü Belay
On :
Pembilay Memberitahukan kepada pemanjat bhw dia
telah mengamankan pemanjat
ü Full
:
Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali
dikencangkan
ü Slack
:
Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay agar tali
dikendorkan
ü Rock
:
Pemanjat Memberitahukan kepada orang yang berada
dibawah bahwa ada batuan
tebing yang jatuh
ü Top
:
Pemanjat Memberitahukan bahwa dia telah sampai
pada puncak
ü Belay
of :
Pemanjat Menginstrusi kepada pembilay bahwa dia
tidak membutuhkan lagi pengamanan
ü Of
Belay :
Pembilay Menginstrusi kepada pemanjat bahwa dia
tidak mengamankan Lagi.
H.
JENIS PEGANGAN
ü Open
Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan dengan posisi tangan terbuka,biasanya
digunakan pada tebing – tebing datar.
ü Cling
Grip : Pegangan pada pemanjatan yang dilakukan degan menggunakan seluruh jari
tangan dan dan agak mirip mencubit biasanya digunakan pada tebing yang permukaannya banyak tonjolan,
ü Pinch
Grip : Pegangan pada pemanjatan yang mirip dengan mencubit,dan mengandalkan
kekuatan jempol dan telunjuk yang biasa digunakan untuk memegang poin – poin
kecil pada tebing
ü Poket
Grip : Pegangan pada pemanjatan dilakukan dengan cara memasukkan jari – jari kedalam
celahan/ lobang tebing, biasanya digunakan pada tebing limenstone( kapur ) yang
banyak memiliki poin lobang.
ü Vertikal
Grip : Pegangan pada pemanjatan yang bertumpu pada poin tebing dengan menggunakan
kekuatan lengan untuk bertumpu dan menaikkan badan.
I. JENIS PIJAKAN
ü Frinction
Steep : Pijakan dalam pemanjatan yang bertumpu pada kaki bagian depan dan
mengandalkan gesekan karet sepatu.
ü Eadging
: Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan sisi luar kaki.
ü Mearing
: Pijakan dalam pemanjatan yang menggunakan seluruh alas kaki
(Pijakan Biasa).
ü Hel
Hooking : Pijakan dalam pemanjatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
poin2 yang menggantung
dengan menggunakan kekuatan kaki
untuk mengangkat badan
keatas untuk menggapai poin selanjutnya.
J. JENIS – JENIS TEKHNIK PEMANJATAN
ü Artificial
Climbing
Adalah olahraga yang
dilakukan pada tebing-tebing dengan tingkat kesulitan yang tinggi dengan bermodalkan alat yang diselipkan
pada celah-celah batu atau memanfaatkan pengaman alam (natural
anchor).Artificial climbing ini dimana alat benar-benar digunakan sebagai
penambah ketinggian disampin sebagai pengaman pemanjatan.
ü Soloing
Adalah Pemanjatan yang
dilakukan dengan mengandalkan kekuatan tubuh untuk langsung mencapai top tanpa
menggunakan pengaman, biasanya dilakukan oleh pemanjat profesional karna sangat
berbahaya.
ü Boldering
Pemanjatan yang
dilakukan untuk melatih kekuatan dan kelenturan badan yang biasanya dilakukan
secara enyamping pada tebing – tebing pendek atau tebing buatan.
ü Free
Climbing
Pada prinsipnya hampir
sama dengan pemanjatan artificial hanya dalam free climbing alat digunakan
hanya sebagai pengaman saja sedangkan untuk menambah ketinggian menggunakan
pegangan tangan dan friksi (gaya gesek) kaki sebagai pijakan.
ü Runer
to runer
Pemanjatan yang
dilakukan tahap demi tahap,dilakukan pada pemanjatan yang sudah memiliki jalur
yang berupa ancor/penambat, biasa juga diperlombakan pada wall buatan.
K. SISTEM PEMANJATAN
1. Alphine Tactis (Alpine Push)
Adalah system pemnjatan yang mana pemanjat melakukan
pemanjatan sampai puncak tanpa turun ke basecamp, jadi pemanjat selalu berada
di tebing saat tidur sekalipun (tidur gantung/hanging bivouak).
Didalam system pemanjatan ini segala aktifitas di luar
pemanjatan akan dilakukan di tebing, untuk ini segala peralatan dan perbekalan
harus benar-benar diperhitungkan, misal kebutuhan makan, minum dan lain-lain.
Penggunaan sistem ini juga harus memperhitungkan personil yang bertugas untuk
mengangkat barang-barang yang banyak tersebut dengan teknik load carry sehingga
membutuhkan personil minimal tiga orang (1 orang leader, 1 orang bellayer dan 1
orang load carry).
2. Himalayan Tactic (Siege Tactic / Himalayan Style)
Adalah Pemanjatan hanya dilakukan hingga sore hari, kemudian
pemanjat turun ke camp dasar dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya.
Tali yang digunakan sampai picht terakhir ditinggal untuk
melanjutkan pemanjatan, Jadi sebelum melanjutkan pemanjatan leader dan bellayer
jumaring sampai picht terakhir, baru kemudian melanjutkan pemanjatan.
Kelebihan-kelebihan system ini adalah dalam pemanjatan cukup
dibutuhkan dua personil untuk membuka jalur (leader dan bellayer), tidak
diperlukan load carry dan hanging bivoak, walaupun hanya satu personel yang
mencapai puncak pemanjatan sudah dianggap berhasil, yang terakhir pemanjat
dapat melakukan istirahat dengan nyaman dibase camp. Kekurangan nya ialah
membutuhkan banyak peralatan terutama tali, Panjang tali disesuaikan dengan
panjang lintasan yang akan dilakukan dalam pemanjatan, pemanjatan yang
menggunakan system ini membutuhkan waktu lebih lama.
L. MACAM – MACAM
TEBING
Beberapa batuan yang sering dijumpai yang terutama lokasi
dimana sering dijadikan ajang pemanjatan di Indonesia.
1. Batuan Limenstone Batuan yang banyak memiliki lobang –
lobang dan berwarna putih.
2. Batuan Beku- Andersit,berwarna hitam keabu-abuan massif
dan kompak
ü Lava
Andersit,seperti andersit dan biasanya dijumpai lubang-lubang kecil bekas keluarnya gas dan dijumpai dengan kesan
berlapis
ü Breksi
lava,menyerupai batu breksi pada umumnya
ü Granit,berwarna
terang dengan warna dasar putih
3. Batuan Sedimen
ü Batu
Gamping,berwarna putih kekuningan,kompak,banyak dijumpai retakan atau
lubang,dan biasanya berlapis.
ü Breksi
Sedimen,seperti halnya breksi lava tapi batu ini biasanya berupa batu pasir.
4. Batu Metamorf
Hampir sama dengan batu gamping tapi disini sudah mengalami
rekristalisasi dan warnanya sangat beragam.